cari saja dengan jarimu

Selasa, 23 November 2010

Tarif Sepeda di Kereta Api; Website Vs Karcis = mana yang benar?

fast blog saja

salah satu oleh2 dari perjalanan bang bolank gowes to jogja adalah kekesalan atas sikap dari seorang kondektur yang malak karena saya bawa sepeda lipat (yang sudah terlipat). detail ceritanya bisa dibaca di: bang bolank gowes to jogja bagian 2. pada dasarnya saya bersedia bayar bea barang bilamana memang terutang / harus bayar. pembayaran pun harusnya dilakukan dengan berdasarkan aturan resmi dan dilakukan di tempat yang resmi. bukan dengan cara malak.

sebagai tindak lanjut dari kekesalan ini,saya curhat dengan rekan2 kaskuser di thread B2W Regional Jakarta. salah seorang rekan menunjukkan "ketentuan" yang ada di website PT KAI. alamatnya : http://www.kereta-api.co.id/index.php?option=com_content&view=article&id=53&Itemid=63
berikut skrinsut nya:

Bang Bolank Gowes to Jogja bagian 6

Setelah beberapa terhenti, sekarang mari kita lanjutkan kisah perjalanan bang bolank gowes to jogja, bagian 6. Terima kasih sebelumnya untuk yang sudah baca tulisan sebelumnya dan juga untuk yang sudah memberikan komentar/tanggapan dan atau rating.

Setelah puas berfoto2 ria di tugu jogja, kembali perjalanan di lanjutkan. jalan terus ke arah utara, menyusuri jalan pangeran mangkubumi hingga sampai di stasiun tugu. Entah karena hapal atau karena hal lain, banyak tukang becak yang berdecak. Entah salut atau berpikir: “wong iki gendeng opo?” hehehehe.. ketika orang lain menghindari jalanan Jogjakarta yang diselimuti debu vulkanik, saya dengan semangat 45 terus menembus jalanan. Mumpung di jogja, da jauh2 ke jogja masak diam di rumah saja.

Di ujung jalan itu setahun kemarin.
eh salah.. itu kan lagunya kahitna.. maksudnya adalah di ujung jalan malioboro ku ambil foto.. kembali efek debu narsis melanda.. cekidot:

Jalan malioboro yang biasanya ramai dengan hiruk pikuk pedagang dan turis baik nusantara maupun mancanegara, kali ini lengang. Jalanan menjadi abu2 karena tertutup abu. Para pedagang yang biasanya dengan semangat menawarkan barang dagangannya, kini bersemangat untuk tidak jualan. Lapak2 baju yang biasanya rajin saya singgahi kali ini tutup. Gak jadi beli baju dech.

Senin, 15 November 2010

Bang Bolank Gowes to Jogja bagian 5

Mari kita lanjutkan kembali berbagi pengalaman gowes di jogja. Terima kasih sebelumnya untuk yang sudah baca tulisan sebelumnya dan juga untuk yang sudah memberikan komentar/tanggapan dan atau rating.

Setelah selesai sholat Jum’at kemudian makan siang, langit jogja yang tadinya terang benderang kini tampak meredup. Apakah sinar matahari tidak bisa menembus pekatnya debu vulkanik gunung merapi? Ataukah memang saatnya harus turun hujan? Aah entahlah.. yang terlintas adalah apakah akan gowes lagi atau diam dirumah? Dilema. Lagi2 dilema. Teringat pada ketetapan hati: sudah jauh2 ke jogja masa diam dirumah saja? Rugiiii dooooonnnnkkkk..

Kali ini berbenah dengan lebih siap. Tripod tak lupa dibawa. Masak hanya sepedanya saja yang difoto? Yang gowes juga wajib difoto donk. Ketularan narsis tampaknya.. =))

Menyusuri jalan magelang terus ke selatan berbelok ke kiri menuju jalan diponogoro. Terus lurus hingga bertemu tugu Jogjakarta. Ya! Tugu Jogjakarta. Monasnya Jogja. Inilah the hottest hot spot di jogja. Wajib kudu harus foto2.. belum ke jogja kalau belum foto2 disini.. jadi, cekidot daaah


Jumat, 12 November 2010

Bang Bolank Gowes to Jogja bagian 004

Terima kasih bagi rekan2 yang sudah meluangkan waktu untuk mengikuti pengalaman saya gowes di jogja. Sekarang kita lanjutkan pada hari ketiga, 5 Nop 2010.

Maksud hati ingin menikmat suasana malam di jogja dengan sepeda, menghabiskan malam di angkringan kali code. Tapi apa daya, jogja saat ini tidak bersahabat dengan semua penghuninya. Gunung merapi menunjukkan aktifitasnya yang bisa sangat berbahaya bagi siapapun. Semburan gejolak vulkanik sangat terasa dan menyiksa. Udara jogja yang biasanya sejuk segar pada malam hari menjadi begitu menyakitkan. Campuran debu vulkanik dan air hujan membuat system pernafasan berada pada level berbahaya. Tak baik dan sangat tidak disarankan untuk gowes malam hari pada kondisi seperti ini.

Lima Nopember 2010 dini hari. Merapi bangun dan memuntahkan sebagian isi perutnya berupa wedhus gembel dan debu vulkanik. Saya yang masih terjaga sekitar pukul 00:30 merasakan getaran dan mendengar suara “batuknya” merapi. Saya yang berada pada jarak aman 30 kilometer saja bisa merasakan aura ancaman merapi, bagaimana mereka yang berada pada jarak aman dibawah 20 kilometer. Turut berduka atas jatuhnya korban dari batuknya merapi. Sungguh ini pengalaman pertama saya merasakan aktifitas merapi.

Pagi hari. Semua stasiun televisi menyiarkan dan menyajikan ulasan informasi yang terbaru tentang merapi. Walaupun informasi yang disampaikan telat namun tetaplah menjadi informasi yang sangat berharga. Saya yang berencana untuk menggowes keliling jogja harus berpikir ulang, apakah melanjutkan rencana atau membatalkannya.

Kamis, 11 November 2010

Bang Bolank Gowes to Jogja – 003

Kembali melanjutkan pengalaman yang lalu… part 3

Sampai Stasiun Kereta Pukul Setengah Dua
Duduk aku Menunggu Tanya Loket dan Penjaga
Kereta Tiba Pukul Berapa?
Biasanya Kereta Terlambat
Dua Jam Mungkin Biasa
Biasanya Kereta Terlambat
Dua Jam Cerita Lama
(Kereta Tiba Pukul Berapa - Iwan Fals)

bagi mereka2 yang sudah cukup berumur mungkin penggalan lirik lagu tersebut masih dengan mudah diingat dan dilantunkan. Namun bagi saya (anggota terdaftar PJKA – pulang jum’at kembali ahad) yang terbiasa bergumul dengan kereta api ekonomi, kereta terlambat dua jam itu adalah hal yang menyiksa. Mau tau kenapa menyiksa?

Kereta api dengan jarak perjalanan lebih dari 400 kilometer biasanya dijadwalkan untuk mengarungi lintasan rel kereta api pada malam hari. Kenapa harus malam hari? Karena di dalam kereta api kelas ekonomi, kipas angin hanyalah sebuah aksesoris mati yang sulit untuk dihidupkan. Makanya gak heran ada sebuah iklan yang berlatar belakang atau bercerita tentang kipas kereta api. Jangan berharap kipas angin itu akan memutar dan menghembuskan angin sejuk, masih syukur besi2nya belum dicolong orang.

Di dua jam inilah saya “menikmati” udara panas dan berdebu. Panas karena hawa letusan gunung yang mulai menyergap ditambah lagi dengan kepulan debu yang beterbangan disapu deru kereta api. Suasana yang nyaman bukan?
$ silahkan lempar sepatu ke arah manajemen PT KAI !